Home

Awal tahun ini saya harus berpisah dengan dua orang yang memberikan kesan tersendiri bagiku. Sebenarnya tidak ada kedekatan tertentu dengan kedua orang ini, tetapi menjadi sangat berarti karena saya bertemu dan bersalaman dengan mereka tanpa tahu bahwa itu akan menjadi salam terakhirku bagi mereka.

Kabar kepergian mereka sama mengejutkannya bagiku.

Yang pertama adalah Pak Stef. Dia kukenal di Meditasi Kristiani. Sejak awal kukenal dia sudah terkena stroke, sehingga berjalan dengan sedikit timpang dan tangannya tidak bisa benar-benar lurus. Tapi satu hal yang sangat khas darinya adalah senyumnya. Senyumnya selalu merekah tulus. Dia tidak pernah mengeluh atas kondisinya. Dia justru selalu menguatkan untuk rajin bermeditasi.

Natal 2015 saya masih bertemu dengannya pada saat menunggu anak-anakku selesai tugas Putra Altar. Saya sempat bersalaman dan masih ingat pada cerianya wajahnya. Karena itu, hanya keterkejutan yang amat sangat ketika mendapat kabar bahwa Pak Stef sudah dipanggil Bapa kembali ke surga.

Yang kedua adalah Cardinal. Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal dia secara pribadi. Yang pernah kuajar di SD adalah Carel, saudaranya. Tapi karena ia selalu bersama Carel, tentunya aku mengenal Cardinal. Rasanya saya memang tidak pernah mengajar dia di kelas, karena saya kemudian pindah ke unit yang lebih tinggi, dan bahkan kemudian pindah sekolah.

Senyumnya selalu malu-malu. Aku masih ingat waktu dia belajar di dekat rumahku ketika ada bimbingan belajar untuk anak-anak GOTA di sana. Tetapi dia tetap tersenyum malu-malu setiap bertemu denganku.

Kabar kematiannya menyentakkanku. Saya masih ingat terakhir bertemu dengannya…juga di gereja. Mungkin itu pada selesai misa hari Natal ketika saya dan ibunya sama-sama bertugas koor wilayah. Atau mungkinkah itu pada malam tahun baru? Saya tidak ingat! Yang saya ingat, senyumnya lebih tegas. Dan dia tidak lagi tampak sebagai anak kecil yang malu-malu itu, tetapi terlihat sebagai remaja yang penuh percaya diri.

Ketika mendengar kabar kepergiannya, dan mendengar penyebab ia harus berpulang… saya merasa tak percaya. Ia harus berjuang melawan penyakit hidrocephalus selama 17 tahun. Sungguh tidak terbayangkan!

Sore ini, aku lebih sedih lagi. Ketika membuka Facebook untuk melihat fotonya, aku baru melihat bahwa dia pernah meminta pertemanan denganku di Facebook. Tidak kuterima karena ia menggunakan foto lain, dan memakai nama Dinal Manengkei. Sudah beberapa tahun terakhir ini saya tidak menerima permintaan pertemanan yang tidak benar-benar kukenal. Cardinal, maafkan saya jika pertemanan itu baru kuterima setelah engkau berpulang. Tetapi engkau tetap anak spesial yang akan selalu aku ingat.

Tuhan, terimalah Om Stef dan Cardinal di rumahMu. Berkati keluarga mereka, agar tabah dalam menghadapi perpisahan ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s