Home

Hari ini saya mendapat link sebuah puisi menarik peninggalan seorang tua di rumah perawatan warga senior di luar negeri sana (tidak sempat mengecek asalnya hehehe…). Judul tulisan yang mengangkat puisi tersebut adalah He Died Alone in a Nursing Home. Nurses Thought He had Nothing of Value until They Saw THIS!

Puisinya memang menyentuh. Ia berkisah tentang Orang Tua Pemarah (Cranky Old Man), begitulah dirinya di mata orang-orang yang merawatnya, tetapi ia mengajak pembaca puisinya untuk bertemu dengan dirinya…Ia adalah orang yang sama yang melalui semua tahap kehidupannya, tapi di dalam dirinya ia adalah dirinya…tidak pernah menjadi tua. Katanya, “But inside this old carcass a young man still dwells,” ya…di balik tubuh tua ini masih hidup jiwa seorang anak muda.

Bukankah itu pula yang seringkali kurasakan? Tahun berlalu dengan cepat, tetapi aku tidak merasa menjadi tua. Yang ada di dalam diriku adalah aku yang lama. Menjadi lebih bijaksana dan lebih sabar mungkin, tetapi pada dasarnya aku merasa tidak berubah. Aku adalah aku.

Bagi orang-orang yang lebih tua, mereka akan berkata, “Kamu masih muda, kami yang sudah tua…” Tetapi anak-anakku sendiri akan berkata, “Ah, mama sudah tua…umurnya sudah begitu tua…” Hahaha…bukankah dulu ketika saya masih kecil, saya juga merasa usia di atas 40 tahun adalah usia orang tua? Apalagi usia mendekati setengah abad…mendengar kata abad saja sudah berasa sangat tua hahaha….Tapi aku? Merasa tua? Hahaha….

Mana bisa berasa tua, apalagi bila berkumpul dengan teman-teman lama. Canda tawa kami masih sama seperti dahulu. Ada yang lebih rapih tertawanya, tetapi pada dasarnya kami tetap seperti dahulu…berani menertawakan diri sendiri!

Hari Sabtu yang lalu saya mengunjungi sebuah rumah jompo. Salah satu penghuninya adalah seorang ibu yang pandai bermain biola. Ia pernah bermain biola untuk TVRI. Ia juga mengajar biola di sekolah musik yang cukup ternama. Tapi ia kini harus menghabiskan masa tuanya di sebuah rumah penampungan bagi orang-orang tua yang sangat sederhana.

Saya pernah menulis di Kompasiana mengenai Agam Soeratman, Pendekar Anggar Indonesia. Saya tidak mengenal Agam Soeratman, melainkan mengenal anaknya Vic Soeratman. Vic Soeratman juga mantan pemain anggar. Om Vic, demikian saya memanggilnya, pernah mengalami stroke, sehingga cukup sulit baginya untuk berbicara. Tetapi begitu bercerita tentang anggar, maka matanya menjadi hidup dan ia menjadi berapi-api.

Setiap manusia punya kisah. Jangan pernah melihat apa yang terlihat kini. Seorang tua renta yang terlihat tak berdaya, tidak pernah bisa kita tebak perjalanan hidupnya ataupun perjuangan hidupnya.

Setiap manusia punya cerita yang penuh warna. Setiap manusia punya takaran sukses yang berbeda. Biar Tuhan saja yang menilai kisahnya. Mari kita mencoba menerima warna-warninya dan ikut mencerahkan warna di mana kita bersimpang jalan dengannya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s