Home

choices

Dalam setiap perjalanan, ada pilihan yang harus dibuat. Pilihan untuk berhenti atau maju, pilihan untuk belok ke kiri atau ke kanan, atau mungkin juga lurus…

Hari ini saya bertandang ke salah satu blog Krismariana, dan membaca “Dilema Ibu Bekerja“, tulisan yang menarik dan topik yang pasti tidak akan pernah basi. Setiap wanita yang menjadi ibu akan menghadapi dilema itu. Tapi, itulah bagian dari pilihan hidup.

Dilema ini tidak akan pernah ada habisnya, karena memang tidak ada rumus yang pas untuk setiap wanita. Teman-teman saya ada yang berkarir, dengan keluarga bahagia dan anak-anak yang bertumbuh kembang dengan baik. Anak-anaknya bersikap santun dan prestasi sekolahnya juga cukup bagus. Sementara, saya, yang memutuskan untuk berhenti bekerja, kemudian juga bekerja paruh waktu dari rumah, rasanya tidak juga berhasil mendidik anak dengan kualitas yang saya impikan. Rumput tetangga selalu lebih hijau, semoga!

Untungnya, ketika kebutuhan ekonomi meningkat, dan pekerjaan suami sedang kurang bersinar, saya bisa kembali bekerja. Kembali bekerja secara penuh juga membawa konsekuensi-konsekuensi yang perlu diperhitungkan.

Pernah timbul sebersit rasa iri mendengar kisah seorang teman dari Eropa yang memiliki maternity leave alias cuti melahirkan yang cukup panjang tanpa kehilangan pendapatan bulanannya secara keseluruhan. Ada jadwal-jadwal yang berkorelasi dengan jumlah pendapatannya (lihat link ini). Bahkan ada juga paternity leave. Hanya, karena suami saya wirausaha, paternity leave bukan masalah utama. Yang menjadi masalah adalah pendidikan jender di rumah yang diperlukan agar anak lelaki kelak memiliki rasa tanggung-jawab atas tumbuh kembang dan pendidikan anak-anaknya. Kebetulan saya hanya punya anak-anak lelaki, hehehe…entah apa saya mampu mendidik mereka untuk bisa berbagi peran dengan istrinya. Semuanya masih dalam proses…

Ada satu hal yang perlu diingat seorang wanita ketika berhenti bekerja untuk tumbuh kembang buah hatinya, jangan pernah berhenti mengembangkan diri sendiri. Jangan berhenti bertumbuh! Ikutlah bertumbuh dengan anak-anak dan keluargamu!

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang teman SD. Ia datang ke sebuah sekolah swasta mewakili sebuah perusahaan besar. Kebetulan saya bekerja di sekolah itu, dan menjadi PIC acara pelatihan menulis bagi guru dari sebuah media dengan dukungan dari perusahaan tempat teman saya itu bekerja. 28 tahun perjalanannya bersama perusahaan itu, bukan waktu yang singkat. Tapi ia juga bercerita bagaimana di awal karirnya gajinya hanya cukup untuk membayar pengasuh anak. Ia bertahan, dan kini sedang memetik hasilnya. Anak-anaknya juga bertumbuh baik dan sukses dalam kuliahnya.

Waktu berlalu, demikian juga waktu yang kita nikmati dengan keluarga, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Tidak selamanya juga menjadi ibu yang tinggal di rumah bisa sukses memberikan waktu yang berkualitas bagi anak-anaknya.

Anak sulungku tahun ini akan lulus Sekolah Menengah Atas, dan akan memasuki masa-masa bertumbuh sebagai mahasiswa. Saya sendiri kembali bekerja, walaupun bukan di bidang yang kupelajari di bangku kuliah.

Kalau menengok ke belakang, melihat waktu-waktu yang berlalu bersama anak-anak, itu suatu keindahan yang tersendiri. Rasanya, memang setiap hal ada waktunya tersendiri. Wahai ibu-ibu muda, ikutilah suara hatimu. Apapun pilihanmu, bagaimanapun kondisi membuatmu memilih, jangan pernah berhenti mengembangkan dirimu!

(photo credit: thecollaboratory.wikidot.com)

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s